Friday, May 28, 2004

HaD move TO http://d3cky.blogspot.com

Monday, March 08, 2004

Duwh .. Sowi ghuY s.. udah lama banget gak pernah update ini Blog .. ! I miss U guys !! Sowi deh klo gw gak up date2 , i pRomIse InsyaAllah gw up date2 deh nih BLoG .. Gw lagi di Internet Skull nih , hu , lg bebas ber internet ria :P , so skarang gw dah punya Digi-Cam baru nihhh ^^ , so , nanti gw bkl post2 my Picture deh yeh ^^ ..

sO , FOr now , bye2 duluw yeh ;)

Monday, November 03, 2003

CinTa kareNa DompEt



Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya.

Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk. Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya. Tertulis di sana, "Sayangku John", yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu denganmu lagi karena ibu telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintaimu. Surat itu ditanda tangani oleh Hannah.

Surat itu begitu indah.

Tetapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan , mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu.

"Operator," kataku pada bagian penerangan, "Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. Saya sedang berusaha mencari tahu pemilik dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut ?" Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini.

Kemudian ia berkata, "Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya pada anda." Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit. Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, "Ada orang yang ingin berbicara dengan anda." Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, "Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu !"

"Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang ?" tanyaku. "Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita itu. "Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencari tahu dimana anak mereka, Hannah, berada."

Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal.

Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo. "Semua ini tampaknya konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu ? Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah.

"Ok," kata pria itu agak bersungut-sungut,

"Bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah." Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar.

Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu."

"Ya," lanjutnya. "Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, Dan ...," Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, "Katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "Aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael."

Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda ?" Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini."

Aku keluarkan dompet itu, dompet kulit dengan benang merah di sisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, "Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak Goldstein ! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu. Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukan dompet itu tiga kali di dalam gedung ini." "Siapakah Pak Goldstein itu ?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar. "Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar."

Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah pak tua yang menyenangkan."

Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, "Oh ya, dompetku hilang !" Perawat itu berkata, "Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda ?" Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku ! Pasti terjatuh tadi sore. Aku akan memberimu hadiah." "Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini." Senyumnya langsung menghilang. "Kamu membaca surat ini ?" "Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang."

Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah ? Kau tahu dimana ia sekarang ? Bagaimana kabarnya ? Apakah ia masih secantik dulu ? Katakan, katakan padaku," ia memohon. "Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya," kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, "Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang ? Aku akan meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku, "Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat surat itu datang, hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu mencintainya." "Michael," kataku, "Ayo ikuti aku."

Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan. "Hannah," kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. "Apakah anda tahu pria ini ?" Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku ?" Hannah gemetar, "Michael ! Aku tak percaya. Michael ! Kau ! Michaelku !" Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami.

"Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah." Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkawinan di hari Minggu mendatang ? Michael dan Hannah akan menikah !" Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka.

Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka. Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 69 tahun.


N/b : I still lost my wallet , *sob .. s0b* , but yeah , nevermind , I had bought a new ones =) *yay* ..

Thursday, October 09, 2003

Halow semua !

Sowi for not up-dating this blog for a long time tho ^_^ , I'm really bz wiff my exam now , so I felt kindda bored and blur when entering the blogger .. *twinkzzz*

Sometimes yah .. , gw kok mumetz banget klo udah masuk ke sini , yang tadinya udah ada di otak langsung hilang deh ! Penyakit para bloggers kali yee =P ..

Ini , gw lagi BT bangetz now , gw lagi pengen blajar bikin Flash ! I mean it ! Tapi gw gak tau mo blajar ma sapa *ada yang m ngajarin gakk* .. I noe , there is an Online tutorial .. but .. Hey !! I'm totally confused if starting reads the words by words .. Curly-burlyy !! =P And also wants to learn ASP , PHP , and other damn hard stuff here .. @_@

I have a story from my friends , it's about his dear grandpa .. I dunno why I write this storey , but it's pretty good for us , coz , from there we could learn more I think ..

My friend have a grandpa , nice grandpa I can say , coz he such a nice person and kindly nice and humble wiff people .. But one thing , namanya juga orang tua yah , kakek2 .. , udah gak bisa jalan , udah totally uzur banget deh .. Gw sendiri mengerti akan kedaan si kakek , even I feel sad klo dia berusaha gerak-in kursi roda nya , karena kan cukup berat yah buat dorong roda nya itu ..

The problem is on my friend's parent .. Anak nya si kakek , tepatnya nyokapnya temen gw ini .. Gw gak abiz pikir deh ! Gimana perasaan elo klo udah tua , gak mampu, dan di acuh-kan oleh anak sendiri .. I mean si anak ini gak terlalu care wiff his father .. Emank seh , Bo-Nyok temen gw ini super sibuk , bokap nya kerja jadi consultant Board Housing sedangkan nyokap nya punya restaurant Thailand , and tau ajalah klo cara hidup seperti ini , mana ada yang namanya care2an , kalaupun ada pasti yah 10 : 1 carenya ..

Jadi , kata temen gw ini , dia juga kecewa ama BoNyok , dia juga jadoi korban kesibuk-kan BoNyok dia , tapi untung nya dia masih tau mana yang salah and mana yang bener , jadi doesn't mean klo ortu gak care kita nya memberontak !

Di samping itu , nyokap nya ini rada2 sombong and terlalu cuek , angkuh malahan .. ! Gw pertama-tama kenalan ama dia ajah antara mau dan gak mau nyokap nya , dari situ ajah gw dah ambil sisi negatifnya si tante .. Huh !

Dan kabar terakhir si , gw denger kakek nya temen gw ini udah masuk rumah panti jompo .. Anaknya udah gak mampu melihara dia katanya .. Maklum , si kakek udah buang air besar sembarangan , kencing sembarangan , dan macem2 lagi .. Gw pernah bilang ke temen gw ini supaya nyokap nya ambil ajah maid satu lagi , tapi katanya nyokap nya gak mo menghambur-hamburkan uang .. MasyAllah ..

Coba elo bayangkan , selama lebih dari separuh hidup nyokap temen gw itu dia di pelihara ama ortu nya .. Dari kecil udah di jaga , di sekolah kan , di kasi makan , di sayang .. Tapi apa dapatnyasi kakek ? Udah tua di sia2kan .. Malah kaya' sampah , di buang ke tempat di mana dia tidak seharusnya berada di situ , karena anaknya kan masih mampu !

Gw jadi sedih nge-liat kakeknya .. Masih inget dia bilang ke gw gini : "Kalau kamu sudah besar , sayangilah orang tua mu .. jangan lah kamu sia2kan .. , jangan seperti kakek .. , cukup lah di dunia ini kakek ajah yang merasa seperti ini , .."

Gw gak tau gimana klo maut udah nge-jemput tuh kakek .. Sendirian , merenungkan hidup nya .. , gak di temani anak nya , aih .. Jangan sampe gw jadi kaya' gtuw .. Tidak ada orang di dunia ini ingin hidup sendirian .. Tapi keadaan dan waktulah yang merubahnya ..

Jadi kangen ama si kakek .. , kasian dia .. Kalian nanti jangan kaya si tante yah ! Jangan sia2kan Ortu !! =) Sebanyak manapun uang di dunia ini kamu miliki , tidak akan bisa menggantikan pengorbanan , kasih sayang Ortu kita selama hidup ini ! Remember that !

Thursday, September 25, 2003

Segelas Susu


Suatu hari seorang bocah miskin sedang berjualan dari rumah ke rumah
demi membiayai sekolahnya.
Ia merasa lapar dan haus, tapi sayangnya ia hanya mempunyai sedikit
sekali uang.
Anak itu memutuskan untuk meminta makanan dari rumah terdekat.

Tetapi, saat seorang gadis muda membukakan pintu, ia kehilangan
keberaniannya.
Akhirnya ia hanya meminta segelas air putih untuk menawarkan dahaga.
Gadis muda itu berpikir pastilah anak ini merasa lapar, maka
dibawakannyalah segelas besar susu untuk anak tersebut.

Anak itu meminumnya perlahan kemudian bertanya,
" Berapa saya berhutang kepada Kakak ?"

" Kamu tidak berhutang apa pun kepada saya," jawabnya.
" Ibu saya mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk perbuatan baik
yang kami lakukan."

Anak itu menjawab,
" Kalau begitu, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih dari lubuk hati
saya yang terdalam."

Saat Howard Kelly - anak kecil yang miskin itu meninggalkan rumah
tersebut, dia merasa badannya lebih segar.
Sebelumnya dia sudah merasa putus asa dan hampir menyerah.

Tahun demi tahun berlalu.
Suatu hari wanita tersebut mengalami sakit parah.

Dokter yang menanganinya merasa bingung dan akhirnya mengirim wanita itu
ke kota besar untuk mendapatkan pertolongan spesialis.
Dr. Howard Kelly dipanggil untuk berkonsultasi.

Ketika ia mendengar nama kota tempat asal si pasien, ia segera pergi ke
kamar tempat di mana wanita tersebut dirawat.
Ia langsung mengenali dan memutuskan untuk melakukan hal terbaik yang
bisa ia usahakan untuk menolongnya.
Sejak hari itu, ia memberikan perhatian khusus pada kasus ini.

Setelah melewati perjuangan panjang, masalah pun dapat diselesaikan.
Dr. Kelly dipanggil oleh pihak administrasi untuk menandatangani biaya
yang harus dibayarkan oleh si wanita kepadanya.
Ia melihat kepada kuitansi tersebut, dan kemudian menuliskan sesuatu.

Kuitansi tersebut lalu dikirim ke kamar perawatan si wanita.
Wanita tersebut merasa takut untuk membukanya, karena ia merasa yakin
bahwa ia tidak akan mampu membayarnya.
Akhirnya dengan menguatkan hati, ia melihat ke kuitansi tersebut.

Sebuah tulisan pada kuitansi telah menarik perhatiannya.
Ia membaca tulisan itu :
" TELAH DI BAYAR PENUH DENGAN SATU GELAS SUSU.
Tertanda, Dr. Howard Kelly."

Friday, September 12, 2003

A Letter to Patrick

Dear Patrick,

I was then an only child
who had everything I could ever want. But even a pretty,
spoiled and rich kid could get lonely once in a while
so when Mom told me that she was pregnant,
I was ecstatic.
I imagined how wonderful you would be
and how we'd always be together
and how much you would look like me.
So, when you were born, I looked at your tiny hands and feet
and marveled at how beautiful you were.
We took you home and I showed you proudly to my friends.
They would touch you and sometimes pinch you,
but you never reacted.
When you were five months old,
some things began to bother Mom.
You seemed so unmoving and numb,
and your cry sounded odd -- almost like a kitten's.

So we brought you to many doctors.
The thirteenth doctor who looked at you quietly said
you have the "cry du chat" (pronounced kree-do-sha) syndrome,
'cry of the cat' in French.
When I asked what that meant,
he looked at me with pity and softly said,
"Your brother will never walk nor talk."
The doctor told us that it is a condition
that afflicts one in 50,000 babies,
rendering victims severely retarded.
Mom was shocked and I was furious.
I thought it was unfair. When we went home,
Mom took you in her armsand cried.
I looked at you and realized that word will get around
that you're not normal.
So to hold on to my popularity,
I did the unthinkable ... I disowned you.
Mom and Dad didn't know but
I steeled myself not to love you as you grew.

Mom and Dad showered you with love
and attention and that made me bitter.
And as the years passed,
that bitterness turned to anger, and then hate.
Mom never gave up on you.
She knew she had to do it for your sake.
Every time she put your toys down,
you'd roll instead of crawl.
I watched her heart break every time she took away your toys
and strapped your tummy with foam so you couldn't roll.
You'd struggle and you'd cry in that pitiful way,
the cry of the kitten. But she still didn't give up.
And then one day,
you defied what all your doctors said -- you crawled.
When Mom saw this, she knew that you would eventually walk.
So when you were still crawling at age four,
she'd put you on the grass with only your diapers
on knowing that you hate the feel of the grass your skin.
Then she'd leave you there.
I would sometimes watch from the window
and smile at your discomfort.
You would crawl to the sidewalk and Mom would put you back.
Again and again, Mom repeated this on the lawn.
Until one day,
Mom saw you pull yourself up and toddle off the grass
as fast as your little legs could carry you.
Laughing and crying, she shouted for Dad and I to come.
Dad hugged you crying openly.
I watched from my bedroom window this heartbreaking scene.
Over the years, Mom taught you to speak, read and write.
From then on, I would sometimes see you walk outside,
smell the flowers, marvel at the birds, or just smile at no one.
I began to see the beauty of the world around me,
the simplicity of life and the wonders of this world,
through your eyes.
It was then that I realized that you were my brother
and no matter how much I tried to hate you, I couldn't,
because I had grown to love you.
During the next few days,
we again became acquainted with each other.
I would buy you toys and give you all the love that
a sister could ever give to her brother.
And you would reward me by smiling and hugging me.

But I guess, you were never really meant for us.
On your tenth birthday, you felt severe headaches.
The doctor's diagnosis -- leukemia.Mom gasped and Dad held her,
while I fought hard to keep my tears from falling.
At that moment, I loved you all the more.
I couldn't even bear to leave your side.
Then the doctors told us that your only hope was
to have a bonemarrow transplant.
You became the subject of a nationwide donor search.
When at last we found the right match, you were too sick,
and the doctor reluctantly ruled out the operations.
Since then, you underwent chemotherapy and radiation.

Even at the end, you continued to pursue life.
Just a month before you died,
you made me draw up a list of things you wanted to do
when you got out of the hospital.
Two days after the list was completed,
you asked the doctors to send you home.
There, we ate ice cream and cake, run across the grass,
flew kites, went fishing, took pictures of one another
and let the balloons fly.

I remember the last conversation that we had.
You said that if you die, and if I need of help,
I could send you a note to heaven
by tying it on the string any a balloon and letting it fly.
When you said this, I started crying. Then you hugged me.
Then again, for the last time, you got sick.
That last night, you asked for water,
a back rub, a cuddle.
Finally, you went into seizure with tears streaming down your face.
Later, at the hospital,
you struggled to talk but the words wouldn't come..
I know what you wanted to say.
"I hear you," I whispered.
And for the last time, I said,
"I'll always love you and I will never forget you.
Don't be afraid. You'll soon be with God in heaven."

Then, with my tears flowing freely,
I watched the bravest boy
that I had ever known finally stop breathing.
Dad, Mom and I cried until
I felt as if there were no more tears left.
Patrick was finally gone, leaving us behind.

From then on, you were my source of inspiration.
You showed me how to love life and live life to the fullest.
With your simplicity and honesty,
you showed me a world full of love and caring.
And you made me realize
that the most important thing in this life is
to continue loving without asking
why or how and without setting any limit.
Thank you, my little brother, for all these.

Your Sister

Monday, September 08, 2003



Happy Birthday To Me !!!

Yeah ..
Today is my B'day ..
So, please mailed your present(S) to me K !! :P

" Treat every love as last love....Don't ever give up!"



Ever since the beginning..... The girl's family member disagree her

relationship with the boy. Saying that because of family background,

if she insist of being together with the boy, she'll suffer for her

whole lifetime... Because of the pressure applied by family members,

she frequently quarrel with him. The girl does love the boy, she used

to ask him: "How much do you love me?"


Because the boy is not good with words, he used to make her angry.

With additional comment from her parents, her mood get even worse. The

boy, has become her "anger releasing target". And the boy, just

silently allowed her, to continuously release her anger on him...

Later, the boy graduated from University. He plan to further study

overseas but before he left... He proposed to the girl: "I, don't

know how to say nice words; but I do know that, I love you. If you agree,

I am willing to take care of you, the whole life. About your family

members, I will work hard to convince them and agree on us.

"Marry me, will you?" The girl agreed. And her parents, looking at

the effort shown by the boy, agreed with them. Finally, before the boy go

oversee, they are engaged. The girl stay back in the hometown, step

into the working society; whereas the boy continuing his study oversee...


They maintained their relationship through telephone and letters.

Although time is difficult to get through with, but both of them

never give up.


One day, the girl left home for work as usual; on her way to the

bus stop, a car lose control and knock her down. As she awake from

unconsciousness, she saw her parents and realise how seriously she

got hurt and how fortunate of her, not to get killed.


Looking at her parents, with their faced got all wet by their tears,

she tried to comfort them. But then, she found out.... She can't even

spell out a word, she tried her best to make some voice, but all she

managed, was to breath without any voice. She's mute...


According to the doctor, the injury affected her brain, and that

cause her to be mute for the rest of her life. Listening to her parents

persuade, but can't even reply with a single word, the girl

collapsed...


Throughout the days, others than crying silently, still it is

crying... Later, the girl discharged from hospital. Returning to her

home, everything is still like before. Except that the phone ring,

has turned into the worst nightmare of hers. Ring after ring, continuously

stimulate her, stimulating her pain...


But she can't tell the boy. She don't want to be a burden to him, and

wrote him a letter... Telling him that she no longer want to wait,

The relationship between them ended, and even returned him the engagement ring. Facing the letters and telephone from the boy, all she can do, is to allow tears falling from her eyes...


Her father decided to move, after seeing the pain she is suffering.

Hoping that she could forget everything and be happier...


Changing to a new environment, the girl started to learn, slowly!

picking up sign language and start over again...

Also telling herself to forget the boy...


One day, her best friend tell her that the boy's back. He's searching

all around for her, she asked her best friend not to tell him about her

and asked him to forget her.


Later... There's never news about the boy, for more than a year. Her

best friend tells her, that the boy is getting married soon, and

passed the Wedding Card to her. She open the card sadly, but she

found her name on the card.


The moment she want to ask her best friend, the boy appear in front

of her. With an unfamiliar sign language, he told her.... I spent more

than a year's time, to force myself to learn sign language, in order

to tell you, I have not forget our promise, give me an opportunity,

let me be your voice.


"I L O V E Y O U."


Looking at the slow sign language by the boy, and the engagement ring

she gave back to him... She finally smiled.

Treat every love as last love... and only then, know how to give...

Treat every day as last day... and only then, learn how to appreciate...


Don't ever give up.



Thanx to akang Causan for sending me this beatiful stories .. :)